Jika kita ingin menyelami bagaimana akhlak Rasul, maka kita juga harus menyelami seluruh kehidupan beliau. Karena seluruh keseharian Rasul merupakan akhlak mulia.

Akhlak Nabi Adalah Alquran
Suatu ketika Sahabat Hisyam bin Amir bertanya kepada ‘Aisyah RA. tentang bagaimana akhlak Rasulullah SAW. ‘Aisyah RA menjawabnya dengan singkat: “Akhlak beliau adalah Alqur’an”.

Merupakan jawaban singkat, namun sarat makna. Ia menyifati Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada.

Sahabat Anas berkata, “Selama sepuluh tahun aku berkhidmat kepada beliau (Rasulullah), aku tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata “Ah”, sebagaimana beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang kau kerjakan, ‘Kenapa kamu mengerjakan ini? atau ‘Bukankah seharusnya kamu mengerjakan seperti ini?” (HR Bukhari-Muslim).

Ibnu Qayim pernah berkata bahwa Rasulullah SAW menyatukan Taqwa dan sifat-sifat mulia;

  • Dengan taqwa kepada Allah beliau dapat memperbaiki hubungan secara vertikal, yaitu hubungan seorang hamba kepada tuhannya.
  • Sedangkan Sifat-sifat mulia yang beliau miliki dapat memperbaiki hubungan secara horozontal, yaitu hubungan beliau dengan sesama makhluk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa takwa kepada Allah dapat melahirkan cinta seseorang kepada-Nya, sedangkan Akhlak mulia dapat menarik cinta sesama makhluk kepadanya.

Anas bin Malik RA juga meriwayatkan, suatu ketika para sahabat sedang berada di dalam masjid bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba datanglah orang badui lalu ia kencing di dalam masjid.

Ketika itu juga para sahabat langsung menghardik orang Badui tersebut dan hendak mengusirnya. Namun Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian menghentikannya (Badui tersebuat dari kencingnya). Biarkanlah dia!”

Para sahabat pun sendiko dhawuh terhadap Rasul dengan tidak mengusirnya dan membiarkan si Badui tersebut hingga selesai kencing.
Setelah si Badui menyelaesaikan kencingnya Rasul menasihatinya agar jangan kencing lagi da dalam masjid, kemudian meminta sahabat mengambil seember air, Rasulullah pun menyiram bekas air kencing itu. (HR. Muslim).

Pembagian Akhlak Mulia

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, seorang ulama membagi akhlak mulia dalam dua klasifikasi; akhlak mulia kepada Allah SWT dan akhlak mulia kepada para makhluk-Nya.

  • Akhlak mulia kepada Allah bermakna meyakini segala sesuatu yang berasal dari diri kita pasti pmemungkinkan terjadinya kesalahan sehingga kita perlu memohon ampunan. Adapun segala sesuatu yang berasal dari Allah SWT patut disyukuri. Jadi, kita harus senantiasa bersyukur, memohon ampunan-Nya, mendekat kepada-Nya, serta berusaha menelaah dan mengintrospeksi diri.
  • Akhlak mulia kepada makhluk terangkum dalam dua hal, yaitu banyak mengulurkan tangan untuk amal kebajikan serta menahan diri dari perkataan dan perbuatan tercela. Kedua hal ini mudah dilakukan jika memiliki lima syarat, yaitu ilmu, kemurahan hati, kesabaran, keseharan jasmani, dan pemahaman yang benar tentang Islam.

Begitulah seklumit dari akhlak Rasulullah SAW. Marilah bersama-sama kita terapkan dalam keseharian kita dan jadikan panutan. Sungguh, Allah SWT telah berfirman, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)

sumber: republika.co.id dengan perubahan.